Senin, 05 November 2018

Belanja di Chatuchak Market Thailand & Ada Reclining Buddha di Wat Pho! [Part 2]

Pada hari ke-2 di Bangkok kami memutuskan untuk belanja ke pasar yang bisa membuat khilaf para wisatawan. Apakah kalian pernah mendengar Pasar Chatuchak  atau Chatuchak Weekend Market?  Untuk menuju ke sana kami sudah dijemput oleh mobil dari Hotel Baiyoke ke Pasar Chatuchak dan jarak tempuh sekitar 6 km atau sekitar 20 menit. Berhubung weekend dan jalanan masih sepi jadi  kami tiba di sana jam 08.30 😃


DAY 2
1. Pasar Chatuchak atau Chatuchak Weekend Market

Pasar Chatuchak atau Chatuchak Market di Bangkok memang menjadi salah satu tujuan wisata "primadona" yang harus dikunjungi (must-visit-place) saat datang ke sana.  Tidak “sah” rasanya kalau datang ke Bangkok tanpa berbelanja di pasar ini. Pasar Chatuchak ini terletak di  Kamphaeng Phet 1-3 Road, Chatuchak, Bangkok. 

Chatuchak merupakan pasar terbesar di Thailand dan  memiliki lebih dari 10.000 kios yang terbagi atas 27 wilayah. Ada banyak jenis barang yang dijual di Chatuchak Market ini lho seperti, kerajinan tangan (handcraft), dekorasi rumah, pakaian, makanan dan minuman, tanaman, sepatu, buku, dan binatang peliharaan serta asesorisnya (baju, kalung, makanan, kendang, dsb.) Nah FYI bahwa Chatuchak market ini hanya dibuka pada saat weekend saja. Buka pada pukul 09.00-18.00. Pasar ini memiliki luas 10 hektar ini yang bisa membuat aktivitas belanja benar-benar terpuaskan seperti kata ini: "shop till you drop." Bener-bener DROP! hahhaa

Bagi yang baru pertama menjelajahi Pasar Chatuchak akan sangat membingungkan nih. Jika kalian dalam grup dan ingin berpencar maka cari titik poin yang akan kembali ke lokasi tersebut, karena di sana akan banyak ditemukan gang dan kios yang serupa. 

Berhubung saya bersama dengan travel dan tidak prepare maka selama kami di sana tidaklah menemukan beberapa kios yang kami cari! Harusnya ikut kepo sih hehe. Ternyata Pasar Chatuchak ini punya map alias peta. Sayang sekali, nasi telah jadi bubur. hehee Lagian bawa uangnya juga pas-pasan sih jadi bagus juga kalau belum menjelajah semuanya 😅

chatuchak.org/

http://thewayfaringsoul.com/quick-guide-chatuchak-weekend-market/
Sejak Pasar ini dibuka jam 9 pagi sudah ramai dengan para wisatawan. Bagaimana tidak? Ya ampun di sini memang segala ada. Bagi yang hobi belanja awas gak bisa pulang lho! hahahaa Selain karena menjual aneka jenis, pasar ini memiliki harga yang relatif murah (jika dirupiahkan) dan memiliki  kualitas yang baik. Maka, tak heran kalau akan banyak bawa buah tangan untuk orang terkasih dan terkadang lupa beli untuk diri sendiri. Nah, kalau kalian datang ke sini usahakan untuk tidak update status  dulu ya guys, karena akan banyak yang nitip 😆 Lain kalau emang kalian buka JASTIP alias jasa titip, awas koper over load haha. ✌😋 Karena tujuan utama kami tak hanya untuk belanja maka kami hanya dikasih waktu sampai jam 12.00 siang, lumayan 3 jam. Cukup? ternyata enggak lho! Jadi kala niat untuk belanja maka sebaiknya seharian aja di sini.

Lokasi pertama kami  berada di Kamphaeng Phet 3 Rd area dekorasi lalu kami berjalan terus menuju area pets atau hewan peliharaan. Sampai di sini aromanya khas banget, bau doggy dan meong hehe Selain mereka menjual binatang peliharaan mereka juga menjual asesorisnya seperti baju, kasur, kandang, kalung, dan sebagainya. Setelah dari sana tibalah kami di area kerajinan tangan. Apa saja yang saya beli dari sini? berhubung saya hanya membawa uang secukupnya untuk belanja maka saya sudah menyusun apa saja yang akan saya beli, walaupun tetap gak bisa sih heu.

Pertama, saya membeli gantungan kunci seharga 130 baht untuk setengah lusin (1 baht=Rp470). Jadi kurang lebih sekitar Rp61.000. Itu harga setelah saya tawar dari harga bandrol SALE 150 baht. Ada juga yang harga 100 baht dengan gambar dan kualitas berbeda. Kemudian, berjalan lagi menuju kawasan tas dan asesoris. Tas-tas yang dijual di sini adalah tas etnik khas Thailand. Mulai dari tas ransel hingga tas kecil. Saya tertarik dengan tas ransel motif gajah warna coklat setelah ditawar itu menjadi 120 bath dari 180 bath! haha sekitar Rp56.000an. Trus tas kecil-kecil gitu sekitar 50 baht atau Rp24.000 setelah ditawar. Dapat kaos katun tulisan Thailand aja harganya 100 baht lho. Nah, bagaimana gak tergoda kan? 👻 ðŸ‘» 

TONG4130 / Shutterstock.com
Jadi walaupun kebanyakan barang di sana sudah harga bandrol namun masih ada bisa ditawar. Rata-rata barang seperti baju, tas, ataupun asesoris itu dibandrol dengan harga 100 baht atau sekitar Rp50.000. Untuk tawar menawar ada beberapa orang yang bisa berbahasa Indonesia, karena katanya banyak orang Indonesia yang datang ke Thailand untuk belanja. Selain itu, juga bisa menggunakan Bahasa Inggris. Nah, kalau kami saat ingin bilang "mahal" atau diskusi tawar menawar menggunakan Bahasa Sunda. Ya, biar gak ketahuan banget lah ya. hehe Nanti juga jika Anda datang ke sini akan banyak bertemu orang Indonesia. ❤ Jadi, gak tergiur nih buat belanja di Pasar Chatuchak ini? 😉


Saya akan memberikan Tips dan Trik selama menjelajah di Pasar Chatuchak. 
  1. Sebaiknya menggunakan transportasi umum. Naik skytrain (BTS) ke Mo Chit station, ambil exit no. 1 dan ikuti arus sampai ketemu pintu masuk kecil masuk ke pasar (clothing section). Bisa juga naik subway (MRT) turun di Chatuchak Park station (exit no.1), dan berjalan sampai ketemu pint masuk kecil ke pasar (clothing section). [1]
  2. Datanglah pagi hari sekitar jam 9-10, karena belum terlalu penuh.
  3. Karena cuaca di sana panas dan penuh orang, pakailah pakaian yang nyaman dan menyerap keringat, misal kaos atau t-shirt.
  4. Pakai sepatu yang nyaman, seperti kets atau sendal. Jangan pakai high-heels 📛
  5. Bawa air minum. Cuaca yang panas bisa membuat kita menjadi dehidrasi. Atau bisa juga membeli langsung es jeruk, kelapa muda atau es krim.
  6. Gunakan Sunblock atau topi besar serta kacamata hitam.
  7. Siapkan juga tas-backpack untuk menyimpan hasil belanjaan. Jika memakai backpack sebaiknya dipakai di dada, jangan di punggung karena banyak copet di sana.
  8. Bawa uang Baht yang cukup, kebanyakan toko di Chatuchak hanya menrima uang tunai, tidak menerima kartu debit atau kartu kredit. ATM tidak banyak dijumpai di sana.
  9. Menawar. Pastikan setiap belanja di sana menawar harga barangnya terlebih dahulu. Untuk beberapa barang bahkan terkadang jika ditawar bisa jadi setengah harga normal saja lho.
  10. Jangan lupa ambil peta di counter informasi.
  11. Jika kamu datang benar-benar langsung dari bandara, kamu bisa menitipkan seluruh tas kopermu di loker-loker yang tersedia di dekat staisun MRT Kamphenng Phat (Exit 2). 

2. Naik Tuk-tuk Thailand

Waktu sudah pukul jam 12.00 lebih, ternyata tim yang lain sudah meninggalkan kami ini. Mungkin keasyikan menawar barang-barang di Pasar Chatuchak 😆 Petunjuk arah yang diberikan Kang Indra pun kami lakukan, menuju JJ Mall. Jalan sedikit-sedikit dari titik poin saat awal ternyata kami hanya memutar kawasan Chatuchak. hahaha JJ Mall sendiri sebenarnya ada di dekat/samping Pasar, karena sudah lelah berjalan dan perut kosong akhirnya kami memutuskan untuk naik tuk-tuk. Kami sendiri tidak tahu berapa tarif naik tuktuk. Ada yang bilang 30, 50, ada juga 100. Jarak ke JJ Mall sebenarnya kurang lebih 1,5 km lah dari tempat kami berdiri. Akhirnya setelah tawar menawar dia menawarkan 100 bath. Wah! Apakah kami kena scam? Waktu itu saya sempat berselancar di internet ada yang menulis paling mahal 100 baht. Alhasil naik sajalah, kami berpikir ya kapan lagi naik tuk-tuk di Thailand dan jika harus bayar 100 baht kan dibagi 3 orang. 🙈


Sekilas, alat transportasi tuk tuk di Thailand mirip dengan bajaj yang beroperasi di Jakarta. Hanya suara mesin pada tuk tuk terdengar lebih halus ya. Tuk dalam Bahasa Thailand berarti murah. Jadi naik tuktuk ini murah atau mahal? 

Pada tuktuk, Supir duduk di bagian depan dan penumpang di bagian belakangnya. Tempat duduk penumpang ini lebih tinggi dibandingkan posisi tempat duduk supir dan hanya bisa memuat 2 sampai 3 orang penumpang saja. Nah agar tidak tejebak ada artikel yang memuat tentang tuktuk nih. [2]

3. JJ MALL

JJ Mall merupakan pusat perbelanjaan di sebelah Pasar Chatuchak. Kami memilih untuk makan siang di sana karena lebih dekat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi kami sulitnya menemukan makanan berlogo atau bertuliskan halal. Akhirnya di food court kami menemukan satu tempat yang menjual makanan Melayu dan India. Saya memilih untuk makan dengan nasi sup ayam karena cepat dan rasa takkan jauh berbeda. Harganya masih batas standar lah ya, sekitar Rp40.000 an/porsi. 


4. Gems Jewellery Gallery
 
Beginilah rasanya jika berpergian Bersama para Bos, mainnya juga ke tempat favoritnya. haha Gems jewellery merupakan tempat menjual perhiasan mewah bersertifikat. Sebenarnya kita bisa lihat proses pembuatannya, tapi katanya saat ini sudah tidak lagi ada. Kami sih hanya bersenda gurau saja di dalam mobil karena kalaupun turun rasanya tetap saja tak mampu beli ya. Harganya pasti akan fantastis. Tapi jika kalian menggunakan travel tour pasti akan diajak untuk sekedar singgah di sini karena ini juga jadi salah satu tujuan wisatawan. 

5. Wat Pho
 
Sepanjang jalan menuju Wat Pho kami ditemani oleh hujan yang cukup deras. Ada yang menarik, di setiap jalan kami melihat bahwa orang-orang mengenakan baju berwarna kuning. Ternyata hari ini betepatan dengan kematian Raja Thailand terdahulu, Bhumibol Adulyadej. Warna kuning juga dianggap sebagai warna paling penting, karena mewakili Raja Bhumibol, yang telah memegang pemerintahan sejak 9 Juni, 1946. Ia lahir pada 5 Desember 1927, pada hari Senin. Untuk membayar upeti kepada raja, banyak warga Thailand memakai kuning pada hari Senin. [3]


Wat Pho memiliki nama resmi, yaitu Wat Phra hetuphon Vimolmangklararm merupakan salah satu kuil tertua dan terbesar di Bangkok. Kuil besar ini terkenal dengan Buddha Berbaring atau Reclining Buddha raksasanya. Tempat ini juga merupakan salah satu sekolah resmi pijat dan obat tradisional Thailand. Wat Pho buka setiap hari, mulai pukul 08.30 hingga 18.30 waktu setempat. Biayanya untuk para wisatawan asing dikenakan sebesar 100 Baht atau sekitar Rp 47.000. 

Alhamdulillah, sesampainya di sana hujan sudah berhenti. Untuk bisa memasuki tempat ibadah di manapun termasuk kuil ini, harus mengenakan pakaian yang sopan. Tidak diperkenankan menggunakan celana pendek/pants atau tank-top ya. Saat tiba di Wat Pho saya melihat desain ukiran dan kuil yang sangat kental dengan Thailand. Berjalan lagi menuju ke dalam saya bertemu dengan patung-patung Buddha yang konon jumlahnya ada 108  yang disusun menampilkan simbol keberuntungan seperti bunga, penari, gajah putih, harimau, dan perlengkapan altar. 

Nah, saat berjalan ke dalam kami melihat seperti Stupa tinggi berwarna-warni. Istilah alternatif untuk stupa Buddha, terutama digunakan di Thailand adalah Chedi.  Wat Pho juga identik dengan Empat Chedi-nya, yang masing-masing dinamakan Chedi Raja Rama II, Raja Rama III, Raja Rama IV, dan Phra Si Sanphet. Phra Maha Chedi Si Ratchakan


Lalu ada Phra Ubosot (Phra Uposatha) atau bot adalah aula utama yang digunakan untuk melakukan ritual Buddha dan bangunan yang paling suci dari kompleks kuil di Wat Pho. [4] Dan masih banyak lagi stupa-stupa atau bangunan yang menggambarkan kehidupan Buddha.


Tak lengkap rasanya jika datang ke Wat Pho tidak mengunjungi Reclining Buddha atau Patung Buddha berbaring. Saat masuk kami menemukan patung emas raksasa yang sedang berbaring setinggi 15 meter dan panjang 46 meter. Telapak kaki Buddha setinggi 3 m dan panjangnya 4.5 m, dan dilapisi dengan besi yang berkilauan. Telapak kakinya dilapisi dengan 108 lakshana (lambang suci Budha) yang terbuat dari mutiara dan merupakan suatu karya seni yang luar biasa. Patung ini adalah salah satu patung Buddha terbesar di Thailand. Rasanya ketika saya melihat patung sebesar ini sih takjub, MasyaAllah. 

 


  6. Chao Phraya River/Sungai Chao Phraya

Chao Phraya adalah sungai utama di Thailand dengan panjang sekitar 372 kilometer. Pada masa lalu, sungai ini bernama Mae Nam. Tetapi sekarang, sungai ini sudah berubah nama menjadi Chao Phraya. Sungai ini memiliki endapan aluvial, yakni tanah yang terbentuk karena adanya pengendapan pada batuan induk dan menyebar ke seluruh daratan Thailand dari utara hingga selatan.  Sungai Chao Phraya menjadi sungai utama pada masa kejayaan Kerajaan Siam. Nah, karena itulah, sungai ini juga terkenal dengan julukan “The River King” yang artinya “Sungai para Raja”.[5] Maka kenapa sungai ini merupakan sungai penting di Thailand.  Banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi melalui sungai ini. Diantaranya adalah Grand Palace, Wat Pho, Jembatan Raja Rama VIII, dan lain sebagainya. 

Sungai Chao Phraya dikenal juga sebagai alat transportasi di Thailand. Ada bus sungai (river buses), Cross River Ferry, dan Taxi Air. Nah, untuk berkeliling dari Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Pho bisa menggunakan kapal yang disediakan.  Seperti, Chao Phraya Express Boat. Tarifnya tergantung jarak, sekitar 10 sampai 30 baht. [6]  Walaupun tak sempat naik kapal berkeliling sungai Chao Phraya, tapi saya masih bisa menikmati matahari terbenam di sisi sungai Chao Phraya. Masyallah. ❤🌇


7. Khao San Road 

Tak lengkap rasanya kalau tak datang ke sini. Konon katanya, Khao San Road ini merupakan tempat ngumpulnya para backpacker dari seluruh belahan dunia. Terlihat dari jalan-jalan yang memiliki gang-gang dan juga hotel bintang 3 sepanjang jalan. Di sini juga terkenal dengan menjual aneka makanan saat malam. Terdapat, restoran, café, bar, dan jajanan pinggir jalan yang bisa dikunjungi. Berbeda dari tempat lain, kali ini kami menjumpai banyak turis asing yang sekedar beraktivitas di sekitar sini. Kawasan ini seperti berada di Legian, Bali atau Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Tak jarang juga menjumpai banyak bule ganteng 😄😍.

Jadi Khao San Road ini memang cocok untuk para wisatawan yang ingin sekedar nongkrong di café Bersama teman. Tak terlihat tempat makan halal di sini. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli Manggo Sticky Rice dan Duren Montong spesial. Sudah sampai di Thailand wajib lah untuk mencicipinya. Harga mango sticky rice 50 TB (Rp25.000) dan durian 100 TB (Rp50.000). 

Selain mangga dan duren,  di sini juga saya menjumpai makanan aneka jenis serangga yang dijual di gerobak. Ada, kalajengking, kecoa, belalang, kodok dan lain-lain. Duh, ngeliatnya aja mual. :))) Menariknya, pada gerobak ditulis bahwa jika ingin foto makana tersebut maka harus mengularkan uang 100 TB 😀 Mungkin banyak yang foto dan gak pada beli makannya. Atulah geli soalnya. haha


Haripun semakin malam, kami mengakhiri trip hari ini dengan makan malam di dekat hotel.  Besoknya, kami ingin melihat sisi lain dari Thailand. Melipir sedikit dari Bangkok ke kota Hua Hin. Ada keseruan apa lagi di trip selanjutnya? 😎🙆✈

..to be continued..

BACA JUGA 🔻🔻
Part 1: https://devifabiola.blogspot.com/2018/10/traveling-ke-thailand-part1.html

0 coment�rios:

Posting Komentar

thanks ya sudah mengunjungi blog saya ;)

FOLLOW ME @INSTAGRAM