Jumat, 14 September 2018

Bulbul si Kucing Panleukopenia Survivor

Saya akan berbagi cerita tentang kucing peliharaan. Saya memiliki dua kucing, satu induk dan satu lagi anaknya, jantan. Dulu ada 3, satu mati karena tertabrak dan tak sempat tertolong. Induknya bernama Pussi, duo jantan, Bulbul dan Vijay. Kira-kira sebulan yang lalu, kucing saya yang berumur 8 bulan saat itu menderita sakit parah (kritis). Awalnya kucing saya yang bernama Bulbul ini sakit selama 1 minggu. Sebelumnya induknya, pussi juga menderita sakit karena flu. Bisa juga karena tertular induknya.  Sebelum saya bawa ke dokter hewan, dia sama sekali tidak makan selama 3 hari. Akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke dokter hewan dekat rumah. Bulbul diperiksa dan didiagnosis otitis. Otitis disebut juga radang telinga. Berbagai macam kondisi dapat mengakibatkan terjadinya radang telinga pada kucing. Kata dokter saat itu dari tungau telinga (ear mite), jamur, bakteri, kanker, alergi, gangguan sistem kekebalan tubuh, luka, dan lain sebagainya. [1] Saat saya bawa ke dokter hewan, otitis pada kucing saya ini bias disebabkan dari tungau yang masuk ke telinganya. Bulbul saat itu sering sekali menggaruk-garukan telinganya sendiri. Dokter mengatakan harus ada makanan dan minuman yang masuk jika tidak dia tidak mampu bertahan. Sayapun membawa dia pulang dan diberikan banyak sekali obat. Saya harus teratur memberikan dia makan, minum dan obat dua kali sehari. Sama seperti merawat manusia, kucing juga butuh belaian kasih sayang. 

Bagaimana cara saya memberi obat? Dokter memberikan suntikan khusus untuk disuntikkan ke mulut kucing. Untuk menyuntikkannya pun harus hati-hati. Tidak bisa lurus tapi harus dari samping. Saya tahu, dia menahan kesakitan selama di rumah. Lubang telinganya yang sudah mulai tertutup oleh kotoran dan sakit jika disentuh bagian telinga. Selain obat minum, dokter juga memberikkan obat tetes telinga. Selain sakit, obatnya pasti pahit. Soalnya saya tak bisa coba kan? Agar obatnya tidak terasa pahit saya memberikan tetes madu atau vitamin c seperti suplemen nafsu makan rasa jeruk yang biasa dikonsumsi anak-anak. Perlahan tapi pasti, bulbul meminumnya walau setiap pagi dan malam saya harus berjuang dengan sabar memberi ia obat dan makan. Makanannya tak bisa lagi snack kucing, ikan pindang , atau sejenis makanan kemasan. Makanannya harus lebih lembut seperti makanan kaleng dengan jenis A/D khusus untuk nafsu makan agar dia tak mati. Dokter mengatakan bahwa jika nafsu makanannya baik, dalam 5 hari pengobatan dia akan sembuh. Saya berharap begitu, kasihan. 

Namun, setelah 5 hari Bulbul masih tak mau makan. Dia hanya tidur seharian di dalam kandang dan hanya bisa minum. Sayapun memutuskan untuk kembali datang ke dokter hewan untuk memeriksakan kembali keadaannya. Dokter mengatakan bahwa selain otitis, kucing saya terkena Panleukopenia. Itu penyakit apa? Feline panleukopenia virus, disingkat FPV adalah infeksi virus yang menyerang kucing, baik kucing liar maupun peliharaan. Penyakit ini disebabkan oleh parvovirus kucing yang merupakan kerabat dekat parvovirus anjing tipe 2 dan enteritis cerpelai. Penyakit ini sangat menular dan dapat membunuh kucing yang terinfeksi. Nama "panleukopenia" mengacu pada rendahnya jumlah sel darah putih (leukosit) pada kucing yang terserang penyakit ini.[2] Jadi ini disebabkan oleh virus ganas yang menyerang saluran pencernaan kucing dan memicu ulkus peptikum. Akibatnya, terjadi diare yang berdarah, dehidrasi, malnutrisi, anemia, dan bahkan kematian. Jumlah sel darah putih juga berkurang, sehingga sistem kekebalan tubuh melemah. Nah, jadi apa yang menyebabkan dia tertular? Kucing yang masih di bawah 12 bulan lebih rentan terkena virus atau bakteri. Penularannya melalui mulut. atau juga melalui tinja atau bahasa kerennya pup yang terinfeksi. Selain itu penyebran virus ini dapat melalui leleran air liur dan ingus. [3] Bisa saja ada kucing liar yang terkena virus FPV yang makan dimakanan kucing saya. Kemungkinannya besar, karena banyak kucing liar yang lalu lalang di rumah saya hanya sekedar minta makan. Kucing saya tidak dikandang, saya lepas di luar tapi sesekali ada di dalam rumah. Soalnya dulu suka pup di dalam rumah.πŸ˜“

Memang, kondisi kucing saya saat itu kritis atau bahkan disebut koma. Sudah lesu, tidak mau makan, muntah, diare, bahkan sampai mengeluarkan cairan dari telinga dan mulutnya. Kalau yang tidak suka kucing pasti tidak kurang suka dengan kondisi kucing yang seperti itu. Setiap hari saya membersihkan badannya bulbul, saya ajak bercerita, dan bahkan bermain. Tapi dia tidak berdaya saat itu. Rasanya sedih dan pasrah jika dia harus mati. Prinsipnya ya kalau sudah punya apapun kondisinya harus selalu dirawat. Karena kondisi kucing saya yang tak memungkinkan untuk dirawat di rumah alhasil saya memutuskan untuk rawat inap di dokter hewan. Rawat inap kucing ada ya? Ada ternyata πŸ˜—Ini juga menjaga agar kucing saya yang satu lagi tidak tertular. 

Saya terus berkomunikasi dengan dokter hewan, Drh. Imas mengenai perkembangan kucing saya. Dia harus diinfus setiap kali tidak mau minum dan makan. Harus terus disuapin, disuntikkan minum dan makannya ke mulut. Awalnya sempat khawatir apakah kira-kira dia di sana dirawat dengan baik? Apakah perhatiannya sama? Dokternya saat itu mengatakan 50:50 antara hidup atau mati dan berdoa supaya dia bisa survive alias bertahan. Duh tambah sedih. πŸ˜₯ Hari ke-5 saya dapat kabar kalau penyakit otitisnya sudah membaik sudah lagi tidak minum obat radang telinga. Alhamdulillah. Tapi dia masih tidak mau makan dan lesu. Saya cuma berharap dia bisa sembuh. Sayapun tak berhenti berdoa untuknya. Iya terdengar lebay tapi dia juga makhluk yang perlu disayangkan?  Sedihnya saya tidak bisa menjenguk ia di dokter hewan. Ini berbarengan dengan Ibu saya yang juga dirawat di rumah sakit. Jadi pikiran saya saat itu terbagi dua bahkan banyak karena harus menjadi peran IRT. πŸ˜ƒ

Kondisi hari ke-5
Hari ke-7 saya memutuskan untuk bertanya kembali dan keadaannya belum membaik. Akhirnya saya memutuskan untuk datang berkunjung di hari Sabtu. Saya melihat dia terbaring dengan infus di tubuhnya. Ya Allah. Ternyata mendengar saya memanggil namanya, "Bulbul", "Bulbul" membangkitkan semangatnya untuk tetap bertahan. Di ruang isolasi, karena khawair akan terkena kucing atau hewan lain. Setelah kadangnya dibuka, dia datang menghampiri saya dan adik saya. Mengelus-eluskan kepalanya ke kaki, dengan suara rintih kesakitan lalu dia menggigit kaki dan tangan saya. Mungkin dia mengisyaratkna, "kemana saja? Kenapa baru datang sekarang". Seperti berbicara seperti manusia, saya bilang bahwa Ibu sedang dirawat, pulang kerja sudah tutup dokternya, dan banyak hal. Menyemangati dia supaya kuat dan sembuh. Saya yakin dia mengerti namun saya yang tidak tahu ia akan menjawab apa. heheheee 

Kondisi hari ke-7
Singkat cerita, hari ke-8 dokter memberi kabar pada saya bahwa kucing saya sudah tidak diinfus dan mau makan! Waaaaah, Alhamdulillah. Senangnya bukan main, ternyata kehadiran saya hari itu membuat dia senang dan ingin sembuh. Manusia dengan hewan peliharaan aja seperti itu, apalagi manusia ya kan? Masyaallah πŸ’— Karena masa obatnya sampai 10 hari maka, baru hari ke-11 saya jemput dia dan bawa pulang ke rumah. Bahagianya dia ketika sampai di rumah. Walau jalan tertatih-tatih karena baru sembuh. Mengendus-endus, meyakinkan bahwa dia tak salah rumah. Sehari itu Bulbul bersuara lama tak mendengarnya "ngeoong".  Bulbul seperti sangat kelaparan saat dikasih makanan kesukaannya, ikan pindang. 😁 Dia berguling-guling di lantai dan sesekali menatap mata kami. Mungkin dia ingin mengatakan, "terima kasih atas bantuannya". Sayang, saya tidak seperti Nabi Sulaiman yang bisa mendengar hewan-hewan berbicara. hehehee Oh ya, bagaimana soal biaya selama rawat inap?  Dokter yang saya kunjungi ini termasuk murah dan dokter bersubsidi. Waktu steril induknya saja, hanya Rp350.000. Harga rawat inapnya Rp50.000 plus obat dan infus. Alhamdulillah, Allah kasih rezeki terus.

Alhamdulillah, sampai saat ini Bulbul sehat dan badannya yang kurus kering, kini sudah kembali berisi. Sudah bisa berlari -lari dan naik ke atas kursi tanpa harus minta tolong. Sehat terus ya meeeeng. Pussi dan Bulbul 🐱🐱 Doakan supaya kami banyak rezekinya dan selalu bisa merawat kalian berdua.

Kalau kucing sudah sakit jangan dibiarkan saja, apabila 3 hari tidak makan dia akan mati. Jangan sampai menyesal dan terlambat. Jadi, bagi yang punya hewan peliharaan tetap harus menjaga kebersihannya ya. Baik makanannya, kandangnya, piringnya, dan kesehatan bulu-bulunya. Sesekali bawa ke petshop untuk di grooming agar terlihat cantik atapun tampan. Jangan lupa juga untuk memberi vaksin.  Nah, kalau sudah terlanjur cinta kan harus dijaga cintanya sampai mati. Dirawatnya jangan setengah-setengah. Selain karena menebarkan kasih sayang sama makhluk ciptaan Allah yang lain kita juga bisa mencari pahala dan jadi amal di akhirat nanti kan ya. Insyaallah. πŸ’

Pussi, Vijay, dan Bulbul

Kondisi terkini 🐱

2 komentar:

  1. Halo kak. Saya dari INDOPET @indopet_id. Cerita kucing kakak menginspirasi banget. Tangguh. Apa boleh saya share di ig? Contact lebih lanjut bisa ke drh. Nida (085659862673) ya kak. Tks

    BalasHapus
  2. drh. Nida: Terima kasih. Boleh Silakan :)

    BalasHapus

thanks ya sudah mengunjungi blog saya ;)

FOLLOW ME @INSTAGRAM